Kekasih Iman (part 2)

Standard

Dear suamiku, sayangku, cintaku, imamku, maafkan aku jika sebelum bertemu denganmu, aku pernah mencintai lelaki lain. Aku tak berharap dia menjadi kamu wahai suamiku, selepas kau ucapkan ijab, dan terqobul. Maka akulah tanggung jawabmu, dan aku sepenuhnya mencintaimu. Suamiku, lekaslah jemput aku, agar cintaku tak salah mendarat lagi untuk lelaki lain.

.

.

Wahai sayangku, sesungguhnya aku sudah mencintaimu sebelum aku mengetahui siapa kamu. Wahai ayah dari anak-anakku, wahai pria yang mendampingiku ketika aku melahirkan kelak, wahai pria yang memenuhi keinginanku saat ngidam melanda, wahai pria yang merawatku ketika sakit, wahai pria yang bekerja keras untukku dan anak-anak kita, wahai pria tempatku untuk bermanja, wahai pria yang memelukku ketika takut dan menangis, wahai priaku, pujaan hatiku, lekaslah jemput aku.

.

.

Tahukah kamu sayang, selepas sholat aku selalu meminta pada Tuhan agar hidayah-Nya diberikan padaku, padamu, pada orang tua dan keluarga kita, serta rekan-rekan dekat kita. Sayaaang… aku ingin kau bimbing, aku ingin kau gendong untuk mengambil air wudhu kemudian kau mengajakku untuk menghadap Tuhan bersama-sama saat 1/3 malam datang, aku ingin itu menjadi waktu termesra kita. Karena saat sholat wajib tiba, aku tak akan memintamu untuk mengimamiku di mushola rumah, aku akan memintamu untuk shalat di masjid dan menuntun putra kita yang masih kecil agar terbiasa taat. Biarkan aku mengimami shalat untuk putri kita di rumah. Oleh karena itu, aku akan berusaha menghafal surat-surat dalam Al-Qur’an agar bisa menjadi imam shalat wajib di rumah.

.

.

Yaa abaa aw laa dii…

Tolong jalanlah beriringan denganku, jangan sampai engkau menggiringku. Entah mengapa, aku sedang merindu padamu. Menanti kedatanganmu dan putra putri kita. Cintaku, ku harap kau mengizinkanku untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Aku hanya ingin menjadi orang yang membuat anakku bisa membaca, menulis, dan mengitung. Aku ingin menjadi madrasah pertama untuk mereka. Aku juga ingin menjadi istri yang mencucikan pakaianmu dengan tenagaku sendiri, aku yang menyetrika, aku yang menyapu, aku yang mengepel lantai, aku yang memasak, pokoknya aku yang akan bertanggung jawab untuk urusan beres-beres. Aku tau kamu boleh membantu, tapi sayang, aku tahu kamu sudah lelah dengan pekerjaanmu untukku dan anak-anak kita. Jadi..izinkan aku mengerjakan kegiatan rumah tangga sendiri, tak perlulah kau kerjakan pekerjaan wanitamu ini, aku bisa 🙂

Hmm, entahlah mungkin engkau tidak membaca surat dariku ini sayang, tapi jika kau tak sengaja menemukan tulisanku ini dan kau membacanya, maka begitu indahlah Allah mempersatukan yang jauh. Sayang, lekas jemput aku ya 🙂

Salam rindu dari istrimu 🙂 

Kekasih Iman

Standard

​Yaa abaa awlaadii (wahai ayah dari anak-anakku)

Aku yang sekarang masih belum bertemu denganmu namun ingin menyapa kabarmu di sana, di tempat yang aku pun tidak tahu di mana itu.
Wahai kekasihku kelak, aku ingin bercerita kepadamu, tentang mimpi besar seorang wanita akhir zaman yang akan mendampingimu ini.
Aku dengan kadar keimanan setitik, dosa sejagat raya, tapi aku ingin mendapatkan kemuliaan di akhirat. Terbebas dari siksa kubur, mendapatkan syafaat di yaumul hisab, dan tahukah kamu tentang kisah Fatimah binti Muhammad SAW? Satu dari 4 wanita terbaik di dunia yang saat melewati shirat kelak semua orang harus menunduk dan menutup matanya, saking mulianya dia sehingga dimuliakan Allah. Dan itulah keinginan besarku wahai kekasih imanku. Aku ingin berjalan beriringan bersama Fatimah RA.
Aku dengan lemahnya imanku, tentu sama saja dengan wanita akhir zaman lainnya. Senang memamerkan kecantikan di dunia maya. Namun aku mencoba menarik diriku perlahan agar menjadi hamba yang taat. Alasannya, karena aku ingin berkumpul dengan orang-orang yang aku cintai selama di dunia ini, ya.. kamu salah satunya.
Wahai kekasih imanku, katanya gadhul bashar itu indah. Namun, terkadang perihal itu hanya ditimpakan kepada wanita untuk menutup dirinya dari khalayak, tapi pria yang mengumbar foto, itu dianggap biasa saja.
Wahai kekasih imanku yang aku cintai, apakah kamu mau menjagaku dari perkara itu?

Ah bukan hanya menjagaku, tapi aku juga ingin kamu membersamaiku untuk berjuang bersama. Bersama mengingatkan untuk tidak condong pada duniawi dan senantiasa berjalan beriringan denganku untuk menggapai keabadian yang indah. 
Maukah kamu membimbing wanita akhir zamanmu ini untuk meraih cita-cita besarnya itu?
Hanya itu yang ingin aku sampaikan, salam rindu dari kekasihmu yang kini belum berjumpa denganmu.

Doa terbesar ku panjatkan pada Tuhan, semoga hidayahnya senantiasa diberikan padaku, padamu, pada orang tua, keluarga, serta teman-teman kita.

CINTA HARI INI DAN KEMARIN

Standard

Hmm, ini tentang pola pikir diri sendiri, tentang semakin bersyukur dari hari ke hari. Tentang tidak merasa malu pada masa lalu, tapi hanya menertawakannya sebagai rasa kesyukuran.

Dulu pernah suka sama si A misal, sekarang secara prestasi duniawi wuidih makin keren, tapi cinta hari ini berbeda dari cinta hari kemarin, ah bukan, bukan yang seperti itu ternyata yang aku mau. Bukan orang yang selalu menunjukkan segala pencapaian duniawinya, bukan.  Satu hal yang membuat rasa awalnya hilang, ketika dia berkata, “Di luar negeri itu susah, ga segampang di Indonesia, multiculture, jadi ya sama perempuan juga kalo salaman sentuhan aja, harus bisa menyesuaikan.”

Hmm, ah ga ada salah, hanya frekuensi yang sudah beda, dalam pikirku, seharusnya manusia lah yang menyesuaikan aturan Tuhan, bukan Tuhan yang harus menyesuaikan custom manusia. Cinta hari ini bukan lagi tentang perasaan, melainkan ketaqwaan.

Pernah banyak suka sama orang, dari yang suka aja, sampai suka banget. Ada lagi, misal si B, ganteng, berprestasi, bener-bener push limit orangnya, ah ternyata bukan yang kayak gitu juga. Bukan orang yang sering membicarakan orang di belakang atau menertawakan sikap dan sifat seseorang yang menurutnya “apabangetsih”, bukan. Bukan yang seperti itu. Ganteng, kaya, cerdas, gigih, tau agama, tapi agamanya ga aplikatif. Hmm bersyukurlah lagi.

Atau si C, laki banget, jiwa pemimpinnya keren, cerdas, giat, mapan, keluarga baik-baik, terkemuka sebagai pemuda shaleh, tapi menel, ah. Sudahlah, coret.

Atau si D, anak masjid, ganteng, cerdas, lemah lembut, tapi ga giat untuk menjalani hal-hal duniawi. Hah, sudahlah, bukan itu yang aku mau ternyata.

Lalu ada si E, ga ganteng sih, tapi baik, sabar, santun, tapi…dia ga suka gue ahahah, bukan jodohnya… mungkin Tuhan mendatangkan dia sebagai teladan yang patut ditiru.

Ada si F, giat duniawi dan akhiratnya, jiwa pemimpinnya keren, komitmennya tinggi, tapi ndeso dan alay. Ah! Bukan ini juga berati, ga gamau. Aduuh.

Benar, kadang ngerasa sok cantik dewasa ini. Banyak maunya, sebenernya ga banyak sih. Tapi ya entah, cinta hari ini beda dengan hari kemarin. Bukan tentang suka dengan orang-orang yang baik duniawinya saja, bukan tentang suka dengan orang-orang yang baik akhiratnya saja. Apalagi orang-orang yang mendekati dengan cara menjadi likers setia di socmed atau nge DM di socmed, halah, itumah langsung blacklist.

Terkait sikap dan sifat, kebersihan seorang pria juga masuk kolom penilaian. Bau? Coret! Kucel? Coret! Masih banyak sih. Cuma itu yang paling ga bisa ditoleransi haha.

Haha, entahlah aku ini maunya apa.

Shaleh, lembut, suka memanjakan, gabisa ngebentak orang, cerdas, giat bekerja, sederhana kelihatannya tapi sebenarnya maunya yang royal, ga menel tapi ramah sama semua orang, ga suka pamer, kuat akidahnya, disiplin, wangi, ganteng, tinggi, putih, hormat sama orang tua, humoris, suka anak-anak, ga baperan, berjiwa pemimpin, ga gila duniawi, ga suka ngomongin orang, husnudzhon. Ah banyak wqwq. Emang ada yang macem itu? Yakeles is!

Kembaliin aja ke Allah, Allah pasti ngerti maunya Isma yang kayak gimana. Huehe. Intinya mah yang cukup, dan mau mencukupkan. Mau belajar untuk berakhlak baik. Karena pangkal dari pemahaman ilmu adalah terbentuknya akhlak yang baik.

​TEMAN = PENGHIBUR

Standard


Ketika 2 gadis Riau ke kosan (read: Rias dan Ikrom)
*ikrom baru dateng, barengan sama kakak yang delivery yoghurt

Is: Bi minta duit ih, kurang 10 rebu

Ik: Gila ya, baru aja gue dateng (masih pake helm)

Is: Buruan ah. Ini kak, makasih ya (bayar yoghurt)

Ik: (Naik ke kamar kosan)

Is: Oy jangan naek parah, parah. Kamar gue lagi berantakan ih

Ik: Bodo. (Lihat kamar) Yaampun Isnu

Is: Ahahah, kata gue juga ih

.

.

Ceritanya mereka mau wawancara volunteer GCI dan heboh di kamar gue

R: Kak, sana dulu kak yayas ga di kerudung

Ik: ih udah gapapa yas

Is: Ikrom ke sana dulu deh, munggung dulu

R: Iya ih kak, sana dulu

Is: Ini buruan, kata gue juga pake kudung-pake kudung (ngasihin kudung lewat pintu kamar mandi)

*Ikrom pun munggung.

.

.

*Beres kudungan

Ik: Yas buruan udah ditelpon Mas Sigit nih

R: Iya bentar, Ma ada bedak tabur ga? 

Is: Ada, tuh pake aja. Emangnya mau ngapain sih kalian heboh amat

R: Boleh langsung ke muka ga? Ih kan mau ketemu adek-adek volunteer

Is: Boleh, pake aja

Ik: Iya nih Rias, gue aja ga sempet gambar alis coba ini

R: Bentar ih, eiyke belum di lipstik

Ik: Sumpah ya rias (sambil ketawa-ketawa)

.

.

*Yayas masih rempong dengan dandanannya

Is: Eh 10 rebu tadi dibayar pake yoghurt aja ya. Nih gue kasih. Ini harga yoghurtnya 11 rebu tau

Ik: ih baik banget

Is: Baik apaan, orang lagi ada promo hari kemerdekaan, jadi harganya 8 rebu. Jadi gue ngutang 2 rebu sih. Tapi gamau bayar ya

Ik: Enak aja, besok jadi 4 rebu ya

Is: Gak! Kan temen! 

R: Eh jadi yayas ngutang ke siapa?

Is: Ke gue sih yas, tapi lunas aja ah, kan temen

Ik: Kemaren gimana nu?

Is: Parah banget sih, gue sakit, terus ga nganterin gue pulang!

Ik: (ketawa puas) terus gimana kemaren?

Is: Gue ketiduran di ekodu sampe jam 9-an lebih, abis pusing banget. Terus pas bangun untung udah mendingan. Bete, gue nyetir sendiri, untung ga apa-apa

.

.

Ik: (Ngeliat boneka kucing hadiah ulang taun dr dia dulu) ini boneka setan yang dulu gue kasih ya (ketawa-ketawa)

Is: Lu ngasih gue boneka bekas ya? Kata mamah gue ini kayak boneka bekas.

Ik: Kenapa emangnya? (Ketawa-ketawa)

Is: ini loh, dari awal dikasih, muka sama telinganya sobek, masa harus dijahit

Ik: Yaudah cuci lah

Is: -_- sobek, dicuci -_-

.

.

Ik: Yas, buru yas

R: Eh ini akhwat banget ga sih kerudungnya? Kepanjangan ga? (Sambil ngaca rempong)

Is: Yaudah gausah dikerudung aja yas, biar ikhwan

Ik: Sumpah ya ini kamar berantakan banget, dimana tidurnya

Is: Eh gue tidur dipinggir ya, kan gue lagi sakit atuh ah biarin

R: (masih rempong) Kaos kaki mana kaos kaki? (Mau ngambil kaos kaki gue)

Is: Heh itu punya gue, kaos kaki lu kan warna abu, itu krem.

R: oh iya (bahkan ya ampe lupa warna kaos kaki sendiri). Aduh eiyke ribet bawa 2 ransel

.

.

Akhirnya mereka turun ke bawah.

R: Kak, yayas keliatan gendut ga pake baju ini

Ik: Aduh, kalo dibilang iya pasti ganti baju lagi. Gamau gueee, lamaa

R: ih seriusan, gendut ga?

Ik: Engga yas, cantik banget yas. Kayak ambassador-ambassador gitu, beneran yas

R: Kayak ibu-ibu ga?

Is: (Ketawa2 dan teriak dari atas kosan) engga yas, lu cantik banget suer deh, kayak gadis belia, ga kayak ibu-ibu

Ik: eh isnu ngapain lu ketawa-ketawa

R: Berangkat ya ma, Assalamualaykum

Is: Ya, ati ati kalian

.

.

Dan akhirnya mereka berangkat.

Akhir Agustus yayas udah officialy SSi mau pergi ke Jogja, Februari mendatang Ikrom udah berangkat sekolah ke Belanda, hiks dan satu per satu temen sepermainan pun akan hilang. Pasti gue akan sangat kehilangan banget! Ah kalian, jangan pergi!

Mau sekeren apapun kalian, gue ga akan mau kenal kalian sebagai titel kalian, karena saat bertitel, kalian sedang berada pada penjagaan citra, bukan diri kalian sendiri. Gue cuma kenal kalian sebagai… teman 🙂

Seaib-aibnya kalian, sebapuk-bapuknya kalian, tapi itu ya kalian.

GADIS DAN GAMIS

Standard

Mempengaruhi teman itu menyenangkan. Salah satunya mempengaruhi untuk memakai gamis ke sekolah. Ponco akhirnya sudah kepengaruh walaupun masih kadang-kadang, koleksinya masih sedikit katanya, giliran Dewi, dare you? Haha.
.
.
*Katanya kalo pake gamis kayak ibu-ibu? Ya gapapa, mama muda lagi tren ini.
.
.
*Keliatan gendut? Gapapa, gemuk-gemuk lucu.
.
.
*Kayak orang hamil? Gapapa, pas naik commuter line bisa dapet kursi prioritas.
.
.
Yang ga enak didengerin, enakin aja. Kalo semua penilaian manusia dibawa asik mah asik aja kok. Karena kalo kata mawar, “kalo orientasinya dunia, ga akan ada habisnya”
.
.
Atau alasan-alasan yang dibuat sama diri sendiri
*Gue ga agamis ah.
Lah yang dibaju seksi juga belum tentu jablay kan. Pakaian bukan untuk menilai seseorang kok. Cuma kamu lebih kyudh aja kalo pake dress, biar kayak berbi berbi castle gitu. Serius deh ciwi-ciwi *gombal.
.
.
*Gue belum siap.
Gausah persiapan kok, orang bentar doang. Cuma selama hidup doang. Ya kalo besok udah mati, ya berarti cuma ampe besok. Abis itu udahan. Semacem disuruh mama beli garem ke warung sebelah. Suerr, ga lama kan.
.
.
*Hati gue belum terketuk buat pilihan itu.
Ya berdoa aja kalo gitu, moga2 kita selalu dituntun pada pilihan-pilihan yang diridhoi Allah.
.
.
Karena ga asik kalo cuma temenan sebentar terus pas nanti udah mati kita ga kenal satu sama lain, padahal pas idup temen sepermainan. Mungkin #exploresurga bakal seru banget, se seru main bareng buat #exploreindonesia .
Ya, temenannya biar gak bosen aja gitu, kita dulu nakal bareng-bareng aja berani, masa sekarang eling bareng-bareng ga berani ~ karena hidup itu harus punya delta positif, *bukan hamil maksudnya – with Fadilla and Dewi Kurnia Sari

View on Path

Dunia, jangan kendalikan aku!

Standard

Ini banget da. Butuh uang? Pasti lah.

Kemaren sempet mikir dan ngobrol sama kakak kelas, “enak ya jadi asdos, ga ada seleksi ketat tapi gaji lebih besar dari pegawai kantoran, megang 1 proyek bisa 5 juta sebulan, kalo 2 proyek atau 3 proyek, banyak banget itu uang” | “iya enak sih, tapi gaenaknya saat harus memalsukan kwitansi untuk anggaran”.

.

.

Kemudian berpikir ulang, hmmm selama berpuluh-puluh tahun dibesarkan dengan rezeki halal, halal banget deh rasanya kalo lihat orang tua kerja secapek itu. Terus masa gue bales dengan rezeki yang ada kemudharatan dalam aktivitasnya cuma gara-gara gajinya besar dan dapet skl udah bisa dapet uang tanpa susah ngelamar sana sini, itu mah berarti cuma sayang orang tua tingkat duniawi, kalaulah nanti mereka diazab karena uang yang gue kasih, maka berdosalah banget gue ini. Toh orientasi hidup ini bukan uang kan, toh pada akhirnya uang itu bukan apa-apa.

.

.

Ah harta.. Bergelimpangan? Gausah, secukupnya, sekadarnya.

.

.

“Kita dibebaskan memilih segala sesuatu di dunia ini sesuai kehendak kita, tapi berdo’alah semoga kita dituntun pada pilihan-pilihan yang diridhoi Allah.” (Tetiba inget lagi kata mbak-mbak admin official account Al-Hurr)

Sepenggal Rasa Syukur

Standard

18 Agustus 2016

​Wahai kawan, jangan temani aku karena dunia, tapi temani aku karena akhirat. Jika telah sempurna persahabatanmu denganku untuk akhirat, maka dunia pun akan menjaminmu. Jangan lelah untuk mengajariku tentang banyak kebaikan, agar cita-citaku bisa terwujud, menjadi orang baik seperti kalian :mrgreen:

Temen berantem, dosen PA sekaligus PS

Masa pas seminar ibu buka aib sih kalo gue anaknya agak… ah sudahlah wqwq. Bu plisss pencitraan atuh ih, gimana bisa dapet laki sih anaknya ini kalo aibnya dibeberin gitu wqwq. Sayang ibu deh, best banget! Maap ya bu kalo isma ga pandai komunikasi, isma komunikasi sama ibu udah kayak ke temen sebaya, duh isma. Tapi actually isma sayang dan menghormati ibu kok dari hati.

Temen satu perjuangan seminar

maaf ya ika aku rempongin dengan chat, “ikaaa, isma takut” hahaha.

Forces IPB, Love you full

priceless! Kesayangan!

Kadooooo

Seringkali kufur nikmat, terlalu memikirkan satu dua orang yang ga suka isma, sampai lupa memikirkan banyaknya orang yang sayang isma. Semoga kasih sayang kalian berbalas kasih dari Allah di akhirat kelak.

Ciwi-ciwi Jepangkuh, satu Jepang asli, satu Jepang Cilacap

ucapan dari ainul apa coba?

1. Blay pantang pulang sebelum sidang

2. Kadoin gue juga ya

3. Selamet ya cabe syar’i

ahahaha, temen paling edan emang. Temen sepermainan dari jaman cabe lagi pedes-pedesnya.

Adik mantan cemewew wqwq

Duh baper deh, tahun lalu di bulan yang sama, aku yang rempongin seminar emas kamu dek, sampe masalah baju aja aku rempongin. Di tahun ini sepertinya doi udah lupa siapa aku haha. Cem ngenes-ngenes sedih gitu ya. Gapapa deh, yang penting aku temenan sama kamu ya dek.

Temen-temen kumpul kebo, tidur satu kamar di A3-289

yang satu udah kerja, huhu

Dua panda foto

sedih ih, bibi ga mau foto sama isma, tapi sama ponco mau. Terharu sama mantan bos himadota, udah lama ga ke sekolah, tapi dateng ke seminar isma. Maaciih nduutkuuuh.

Pandaaaaaa

Temen se PA yang paling rempong

Selalu pengen dikepsyenin bagus kalo di socmed. Nazes lu!

Temen cowok pertama di IPB

Kalo kata padli, lu cantik, modis, pinter, tapi kok gue ga suka (naksir) sama lu ya, tapi gue nyaman banget kalo deket sama lu. *itu namanya true friendship.

Terus dia bilang lagi, bisa ga sih kita temenan gini terus sampe gede. Bisa banget lah, temen-temen gue = temen-temen suami gue, mungkin kalian akan bermain bersama di masa depan kelak.

Ngakunya sih gadis manis dari riau

Temen paling nyebelin sepanjang masa, tapi sayang banget sama ibu-ibu ini walaupun sering banget berantemnya. Sodara kembar sama orang tuanya bener-bener mercayain dia ke gue. Oh no! Padahal kita sering banget slek ya wqwq. 

Dia 2 tahun di atas aku loh umurnya, seriusan

Kecil-kecil juga dewasa loh. Gadis sholihanya intp 49. Boleh tuh dilamar gan, rikomendid!

Lum’aaaaaa

Desainer kesayangan!

Satu frekuensi banget! Doyan jajan dan karnivora

Goals banget sama lakinya, bisnis bareng-bareng. Ah aku ngiri mbak

Dua makhluk astral yang bantu beberes dan jadi juru foto. Ya begitulah kalo temen, pulang terakhir dan yang paling direpotkan ahahaha. Maapin gais, dan kita ga punya poto cantik layaknya orang-orang normal dengan teman-teman gengnya :”

Hmmmm…

Standard

Luar biasa ya dosen pembimbing akademik gue nutupin kenakalan gue.

.

.

Ditanya kadept, Bu kenapa IP anaknya turun drastis banget? | (cuma ketawa-ketawa) gatau bu, coba tanya anaknya (padahal ibu tau banget tentang kenakalan gue dari jaman dulu, banyak banget direpotin dan dibuat malu sama gue) | Nak kamu kenapa? Cape nak? Atau pelajarannya susah? | Hmm hehe (alasan lampau biarlah hanya masa lampau yang tahu).

.

.

Ga tau malu emang ya, punya dosen PA dengan posisi prestis di fakultas tapi anak PA nya hobi banget bikin onar.

#speechless

#sayangibu

Ah Poong, Sentul City

Standard

Okay, sesuai dengan janji ya dear, kali ini aku lanjut menulis untuk review tempat jalan-jalan. Well aku suka banget pergi ke tempat-tempat dengan view atau ornamen seni rupa. Kali ini, aku jalan-jalan singkat di tengah mumetnya jadwal menuju ke Ah Poong. Floating market dinatas sungai Cikeas, Sentul, Bogor.

Aku mau kasih tau akses dari kampus IPB Dramaga menuju ke sana ya. Jadi dari dramaga kamu cuma tinggal naik angkot kampus dalam – Laladon sampe ke terminal bubulak dengn ongkos Rp4000,- lanjut naik transpakuan sampe mentok di halte botani square dengan ongkos Rp5000,- dari situ lanjut lagi naik transpakuan yang menuju ke Belanova, Sentul. Naik sampai di pemberhentian terakhir, ongkosnya sama Rp5000,-.

Dan ga ada tarif masuk menuju Ah Poong ya, itu taman dan tempat makan yang free entry.

Nah dari situ jalan beberapa meter udah masuk kawasan Eco Art Park Sentul, banyak patung-patung yang artistik di sana. Berikut foto-foto di eco art park.

Dari eco art park menuju pasar apungnya, kita akan melewati jalan jembatan yang cukup indah dan tentunya banyak yang foto-foto

Dari  situ masih masuk kawasan taman dengan patung andalannya, patung robot. Tingginya mungkin sekitar 3 meter.


Dan patung raksasa ini

Dan masuklah kita ke kawasan Ah Poong

Ini dia temen sekolah yang bisa gue ajak ngebolang, cabainya faperta.

Well, di sana untuk jajan di pasar apungnya, kita harus ngisi saldo dulu dinkartu ini. Selow, gausah daftar ribet kok, terus kalo ada sisa uang juga bisa direfund.


Katanya di sana itu, tenar dengan snow ice singapuranya. Tapi kecewa sih, rasanya aneh kalo menurut saya, ga manis.. ngambang gitu. Harganya Rp25.000,- 

Oke segitu saja ya reviewnya, semoga bermanfaat ya dear 🙂